IPDN lagi, gpp udah telat juga
ya.. ya.. ya.. lagi-lagi IPDN menjadi sorotan kali ini. IPDN - Institut Pendidikan Dalam Negeri - yang sekarang malah bisa dikatakan lebih terkenal dengan sebutan “Institut Pembunuh (atau Penganiaya, Preman, atau apapun kekasaran lainnya, bahkan bisa juga pree-seks) Dalam Negeri” kembali memberikan kontribusi pada lahan pemakaman. kali ini yang menjadi korban adalah seorang praja dari Sulawesi Utara, Cliff Muntu.
Institusi yang seharusnya mencetak calon-calon (ke)aparat pemerintahan malah menjadi tempat untuk penyksaan dan mungkin balas dendam pada angkatan yang berada di bawahnya. hmm, hebat.. mau jadi apa negara ini kalo yang nantinya memimpin adalah orang-orang yang justru dilatih untuk membunuh? ups.. hati-hati kalo bicara ah..
OK, kembali ke masalah.. hal ini kan sungguh memprihatinkan, bayangkan udah berapa kali ini terjadi? Seorang dosen pengajar di sana, Inu Kencana, membuat disertasi doktornya untuk disidangkan di Universitas Padjajaran yang berjudul “Pengawasan Kinerja STPDN Terhadap Sikap Masyarakat Kabupaten Sumedang”. Dia pun menemukan banyak sekali kasus yang sama. sejak tahun 90an malah udah 35 Praja yang tewas, tapi hanya 10 kasus aja yang terungkap.. wow.. hebat sekali institusi yang satu ini menyimpan rahasia.
Ini yang terungkap, cuma 10 sebelum dihitung dengan Cliff:
Tahun 1994, Madya Praja Gatot dari Kontingen Jatim yang meninggal ketika menjalani latihan dasar militer dan dadanya retak ()
Tahun 1995, Alvian dari Lampung, meninggal di barak tanpa sebab.
Tahun 1997, Fahrudin dari Jateng, meninggal di barak tanpa sebab.
Tahun 1999, Edi meninggal dengan dalih sedang belajar sepeda motor di lingkungan kampus.
Tahun 2000, Purwanto meninggal dengan dada retak ( hebat! )
Tahun 2000, Obed dari Irian Jaya, meninggal dengan dada retak (tiga nih)
Tahun 2000, Heru Rahman dari Jawa Barat yang meninggal akibat tindak kekerasan. Kasusnya sempat menjadi bahan berita. Kasusnya dilimpahkan di pengdilan.
Tahun 2000, Utari meninggal karena aborsi dan mayatnya ditemukan di Cimahi.
Tahun 2003, Wahyu Hidayat yang juga ramai diberitakan meninggal karena tindak kekerasan. Kasusnya dilimpahkan ke pengadilan.
Tahun 2005, Irsan Ibo meninggal karena dugaan narkoba.
dan setelah Inu mengungkapkan sebagian saja dari disertasi yang belum disidangkan itu, ia malah mendapat semacam hukuman dari berbagai pihak. Atasannya memberi larangan mengajar sementara, pejabat Depdagri mengancam dengan sanksi disiplin PNS. nahlo.. kenapa juga saat kebeneran akan diungkap, yang mengungkapnya justru yagn kena sanksi?
Yang harusnya diberi sanksi adalah yang menutup-nutupi berita, yagn bersikeras berbohong bahwa Cliff tewas karena liver atau yang menyuntikkan zat formalin ke jenazah Cliff untuk mengaburkan pemeriksaan. hah.. memang aneh, dari masa pendidikan aja aneh, apalagi kalo mereka udah jadi pemimpin yah?
Dan belon lagi berita –dan juga hasil penelitian dari Inu– yang mengatakan bahwa banyak terjadi kasus free sex di sana –wow, cool man, this institut’s rock!!!– dan dari tahun 2000-2004 adan sekitar 660 kasus ditemukan. Meskipun sempat ditentang oleh 900 Praja wanita yang merasa pemberitaan tersebut merupakan berita bohong, dan juga perkataan petinggi IPDN yang mengatakan bahwa kasus itu adalah masa lalu, tapi harusnya dipikirkan juga dan menjadi sebuah pelajaran penting, bahwa pemberitaan –kesampingkan benar dan salah– bisa saja memang terjadi, meskipun –misalnya– hanya dibesar-besarkan saja.
pro dan kontra pun akhirnya terjadi di tingkat atas.. bubarkan? ganti kepemimpinan? rubah kurikulum? buat IPDN bukan hanya di satu tempat? atau nasib apa yang akan terjadi nanti pada IPDN?
kita cuma bisa menunggu.. tapi, apapun itu, kalo emang belum ada yagn berubah dari cara mendidik dan pengawasan, rasanya ga akan berubah perilaku yang lebih keras daripada pelatihan dalam ketentaraan ini. dan perubahan nama pun ga ada gunanya.
Powered by ScribeFire.
)
Tanggapan dari mira ajaahh
melayang pada 10 April 2007 pukul 1620
uuww erik gw juga esmosi ttg berita ini…dulu tuh pernah ada anak IPDN namanya dulu amsih STPDN ke kampus gw trus gebukin temen gw gara2 katanya mereka denger temen gw itu jelek2in nama sekolahnya. padahal emang udah jelek juga masih pake dibela hehhehehe
Tanggapan dari erik
melayang pada 10 April 2007 pukul 1803
_mira ajaahh : wadoh, ampe segitunya yah? mungkin memang banyak yang harus dirubah di dalam tubuh ipdn. salah satunya yang SBY bilang, untuk memotong satu generasi. semoga aja itu bisa cukup berhasil.
Tanggapan dari budson
melayang pada 11 April 2007 pukul 836
IPDN ?
Si`Oknum`kenapa harus kamu lagi yang membuat semakin tidak percayanya lagi kamu padamu ??, kenapa orang yang berusaha membantumu untuk menjadi lebih baik ??, kau tak izinkan untuk mengajar lagi ??, kenapa orang yang membunuh saudaramu tetap kau bela mati-matian ??, kenapa saudaramu yang dadanya retak kau bilang lever dan kau suntik dengan formalin ??, kenapa !!?
Puas? kah nuranimu melihat saudaramu sekarat akibat ulahmu !!? puas? kah kau melihat ibunya bapaknya, kakaknya, adiknya tangisi isi peti mati !!
Anjing !!!…ya cuma anjing yang sanggup lakukan itu, manusia tidak !! manusia masih punya nurani yang harus dipertanggung jawabkan dihadapanNya.
Kau, aku, dan saudaramu berdarah sama !!, jangan sampai kau ku ajak main `satu sarung 2 rencong` !!
we love you !!
Tanggapan dari erik
melayang pada 11 April 2007 pukul 951
_budson : wow, serem juga kang bud kalo marah yah? tapi mo gimana lagi yah? saat masih STPDN dia udah buruk, gabung dengan APDN (salah ga yah?) jadi IPDN kok ga ada perubahan, soalnya katanya cuma budaya STPDN yang dibawa. duh.. kok jadi begini?
semoga bisa jadi lebih baik deh, bukan lagi jadi sarang calon pembunuh dalam negeri, tapi bisa jadi calon pemimpin seperti yang diharapkan.
Tanggapan dari budson
melayang pada 11 April 2007 pukul 1359
iya, gimana gak marah coba, mereka ga belajar dari kasus2 sebelumya, korban jatuh udah lebih dari 20 orang meninggal, haruskah mereka bisa belajar setelah adanya korban yang ke 200 ? lebih lucu nya lagi IPDN yang sudah melanggar UU sisdiknas 2003, tetep aja dengan bangganya mereka menelurkan korban2, alumni yang jd mayat udah banyak, pak?. kalo mereka mau disiplin yang benar2 disiplin tanpa menghasilkan korban, mereka harus belajar banyak pada sekolah2 militer yang ada di tanah air ini secara proporsional. Supaya tahu mana pendidikan militer dan mana sipil. Bagaimana menghadapi masyarakat nanti? Politik belah bambukah yang akan diterapkan? Oleh karena itu kalo menurut saya harus dilakukan Revolusi Pendidikan di kampus IPDN, tidak perlu di bubarkan, yaitu ;
1. Tidak ada Penerimaan Mahasiswa baru sebanyak 3 Generasi, (supaya rumput dikampusnya tumbuh tinggi dan kotor, kan kalo begitu daripada gebukin orang mendingan bersiin kampus dan potong tuh rumput..hehe)
2. Dosen-dosen yang takut di kritik dan suka menutup-nutupi kebobrokan civitasnya dan tidak melakukan reaksi apapun diganti total dengan dosen yang lebih produktif dan humanis. (ya mirip2 tukullah…)
3. IPDN harus dibawah Depdiknas sesuai dengan UU Sisdiknas 2003. (masa sih udah 4 tahun harus dibawah depdiknas ga ngerti juga…?)
4. Civitasnya harus `GAUL` dengan dunia luar IPDN. (yang lain udah nemuin alat internet gratis, 4G, ini masih ngurusin junior yang telat dating buat santapan bogemnya..kapan majunya ni bangse..?)
Info nih, dulu awalnya APDN adanya di tiap Propinsi, kemudian untuk melanjutkannya di buat IIP di JKT, APDN di lebur jadi sati menjadi STPDN jadi lulusan STPDN udan bisa mendapat gelar sarjana. Dan kemudian karena satu rumpun pendidikan ilmu pemerintahan maka di rubah menjadi IPDN yang kita cintai ini.
Tanggapan dari erik
melayang pada 11 April 2007 pukul 1424
_budson : semangat amat, kang.. jadi asa pengen ngebahas terus nih.. kenapa juga cuma kita aja yang ngobrol, apa ga ada pendapat ato sanggahan lain gitu yah? dari anak IPDN sekalian… ups.. mereka ga kenal teknologin internet kali yah? ato emang ga “GAUL” tea, jadi ga tau kalo di depan kampus MEGAH mereka udah ada banyak warnet. atau karena terlalu sibuk nyebrang jalan GA DI TEMPATNYA (padahal mereka kan calon (ke)aparat negara), jadi celingak celinguk kayak ORANG BEGO takut ketubruk mobil, so ga sempet liat kalo ada warnet?
hihihi…
sempet sih kepikiran juga kang bud, gimana kalo sekalian generasi sekarang biar abis dulu baru masukin generasi baru, tapi apa itu ga kelamaan dan malah bikin pengajar yang ga tahan? rasanya 1 generasi (ato 1 tahun) juga cukup, selama peraturan (separti yang kang bud bilang, sisdiknas 2003), pengaturan, pengertian dan segala di IPDN di jalankan dengan sesuai dan tentu aja selalu di pantau.
jangan cuma dilihat pada saat ada masalah aha, giliran udah lewat, semua kembali cuek… ehhh giliran ada yang merhatiin dan melaporkannya (sebagai disertasi contohnya) malah di anggap musuh yang ada di dalam (selimut). yang lain, hanya tutup mulut, takut dicurigai, takut ini takut itu.
padahal. video udah mengungkap semua yah?
aneh…. itu video dari mana sih?
eh… setuju juga kayaknya kalo seluruh kampus dipasangin CCTV, kayak yang dibilang ama…. hmm… wapres gitu yah? jadi pantauan itu akan benar-benar berjalan…
tapi.. siapa kita? kebijakan tinggal kebijakan, nantinya berulang lagi.. semoga aja enggak terjadi lagi deh… kasian keluarganya…
Tanggapan dari mira ajaahh
melayang pada 11 April 2007 pukul 1537
tahan mang!!
Tanggapan dari erik
melayang pada 12 April 2007 pukul 706
_mira ajaahh : kita udah pernah coba tahan, miriam.. tapi coba aja pikirin, mo berapa banyak lagi korban jatuh baru mereka mau berubah?
so, apakah tahan aja udah cukup?
mungkin kita ga bisa ngapa-ngapain juga, tapi setidaknya “speak your mind” aja udah lumayan, siapa tau ada yang baca dari pihak sana dan bertambah satu lagi orang yang sadar…
tau deh ah..
Tanggapan dari Boby
melayang pada 12 April 2007 pukul 910
betul itu harus dipotong satu generasi. Di beberapa Departement Pemerintah juga ud mulai diberlakukan hal seperti itu, soalnya budaya yang gak beres ud bisa langsung keliatan tuch sama anak 2x yang baru masuk jadi PNS, jadi mang harus di potong satu generasi dan aturan diberlakukan sebenar-benarnya. Mudah 2x an ada perubahan ke arah yang lebih baik. Tunggu hasilnya.
“CCTV mah nanti disalahgunakan sama yg jaga soalnya bisa dipake jual video yang XXX soalnya kan di kampus 2x lagi marak kegiatan extrakulikuler yg berhubungan sama ML cuma gak keliatan aja, kalo di pasang CCTV kan jadi enak donk”. Hehehehehe
Tanggapan dari erik
melayang pada 12 April 2007 pukul 1102
_Boby : tapi kalau tujuannya untuk memantau, rasanya cctv hanya akan disimpan di tempat yang layak dong, dan juga tempat yang TIDAK SEHARUSNYA digunakan untuk mesum. dimanapun boleh aja dipasang asal bukan kamar mandi dan ruang ganti aja kan?
nah di sini peran pengawasan juga berguna, kalo udah diawasi 24 jam, emang masih ada yang mau esek-esek? ato masih ada yang mau membunuh?
yah… tapi maling selalu selangkah di depan polisi kan?
kita tunggu aja langkah selanjutnya seperti apa, lihat, perhatikan dan (mungkin akan) kembali mengumpat..