bicara pada diri - talk to my self
lalu apa yang akan kamu lakukan besok?
so, what are you going to do tomorrow?
entah ya, belum ada rencana..
I don’t know, doesn’t have any plan yet..
jadi.. dalam hidup ini kamu memang ga pernah nyusun rencana yah, seperti semua dibiarkan berjalan aja apa adanya dan kamu tinggal liat nanti, besok, lusa atau kapanpun di masa depan itu, bagaimana masa dan waktu menjadikannya?
so.. you never have a plan in your live, you just let it flow and you only wanted to wait later, tomorrow, the day after or whenever the future is, for time and clock made them by themselves?
yah, mungkin bisa dibilang seperti itu… meski pernah sebelum masa ini aku sering membuat rencana. Tapi..
yeah, short of.. even tough i have made many plans before these times.. But..
selalu gagal? selalu ga sesuai dengan yang direncanakan?
always failed? I doesn’t like the thing you have planned?
hmmm… mungkin lebih tepat dikatakan bahwa semua kejadian yang aku rencanakan selalu digagalkan, bukan gagal dengan sendirinya, hal itu tidak sesuai rencana karena faktor sangat luar yang menyebabkannya. semua karena faktor penggagal.. hmmm… it might be more like the plan always been ruined, it’s not ruin by it self, or ruin because there are an outside factors did it. everything made by some ruiner factors.
jadi ada si A, atau B atau kejadian anu pada waktu sekian sehingga apa yang kamu rencanakan selalu berakhir tidak sesuai?
so there are this A or B person or something happened at the wrong time that made your plan run out from your expectation?
yah, begitulah…
yeah, something like that…
dan itu membuat kamu tak lagi ingin membuat rencana apapun untuk jangka waktu ke depan?
and it makes you didn’t intend to plan anything for the next future?
rencana selalu ada, mas.. tapi rasanya aku ga terlalu tertarik untuk mengejar rencana itu dengan sepenuh hati. apapun yang terjadi biar saja nantinya akan terjadi, ga perlu berpikir atau berusaha terlalu keras untuk mendapatkannya atau mencapainya, toh nantinya juga bakalan ada yang menggagalkan atau bakalan berhasil dengan sendirinya.
There are always a plan.. but i didn’t intend to make it as a priority or pursue it with all it takes. what ever it is, let it happened, didn’t need to think it a lot or try so hard to take or get it, because i know there is something else will stopped it or it will successful when the time comes.
tapi coba kamu pikirkan, apa itu ga munafik? kamu menginginkan sesuatu, kamu hanya berharap pada waktu yang terlewati padahal mungkin kamu menginginkan sesuatu itu dengan sepenuh hati, dan akhirnya lagi-lagi kamu tidak dapat merealisasikannya dan akhirnya menyalahkan lagi pada “sesutu” yang menggagalkan rencana itu. padahal bisa jadi kamu sendirilah yang menggagalkan rencana itu karena kamu ga mau berusaha. padahal semua itu bisa jadi udah di depan mata. setiap sesuatu butuh perjuangan, setiap keinginan butuh pengorbanan.
but try to think it this way, didn’t it looks like hypocrisy? you wanted something, you only wish to the time that will passed, whereas you want it so much, and finally you couldn’t get it, again and again, and you pointed to those factors which ruined your plan. Didn’t you see that it is you who ruined it because you didn’t want to struggle. sometime you don’t know that it could have be there, in front of your eyes. everything need struggle and sacrifice will be needed for every hope.
———
dan akupun baru saja berpikir, ternyata memang semua butuh usaha dan perjuangan, meski masih ada satu lagi pertanyaan.. sejauh apa perjuangan itu harus dilakukan sampai saat kita sudah pas untuk menyerah pada keadaan?
and then i just think, there will always strive and struggle, even then i still have another question.. how much struggle will it takes until we decided to give in?
Powered by ScribeFire.

Tanggapan dari lidya
melayang pada 14 April 2007 pukul 1731
meski masih ada satu lagi pertanyaan.. “sejauh apa perjuangan itu harus dilakukan sampai saat kita sudah pas untuk menyerah pada keadaan?”
,,sejauh mana kmu mnganggap sesuatu itu penting dalam hidupmu,, kata filsuf tp ga inget siapa filsufnya
Tanggapan dari erl
melayang pada 15 April 2007 pukul 2002
^ pilsup sapa neh…hmm
kok mirip2 sik…btw kpn ktemu deh gw kasi satu acuan buat loe
but gw juga deng
Tanggapan dari erik
melayang pada 16 April 2007 pukul 759
yah, pertanyaan akan selalu kembali lagi pada kita, sejauh mana sesuatu itu kita anggap penting… maka mungkin sejauh itulah usaha kita.. meski akhirnya jadi ga jelas sejauh mana, karena batasan ini memang hanya bisa ada dalam hati dan penilaian masing-masing…
yeah, the questioan will be return to us, how important that matter to us… so, it will be that much our effort.. altough we couldn’t tell it for sure, because the limit are in our heart and based on our calculation.