Buang sampah?

Kalau ditanya, apakah kamu pernah melihat orang (Indonesia) membuang sampah sembarangan atau tidak pada tempatnya? aku sangat yakin kamu semua akan menjawab setidaknya dengan anggukan kepala yang mengartikan bahwa kalian pernah atau bahkan cukup sering melihatnya.
Tapi, kalau ditanya dengan cara yang lain, apakah kamu pernah membuang sampah semabarangan atau tidak pada tempatnya? apakah kamu akan cukup berbesar hati untuk mengakuinya?
Bukan hal yang aneh (padahal justru inilah anehnya) kalau di hampir setiap tempat dimanapun di Indonesia (apalagi kota besar, dan tentu saja Jakarta) kita bisa melihat orang yang dengan tenangnya membuang begitu saja bekas permen, bungkus makanan, air mineral, puntung rokok, dan sisa konsumsi apapun ke tempat-tempat yang tidak seharusnya. Jalan, trotoar, selokan, kali, sungai, dan…. yah, dimana saja. Hal ini pun tidak jarang terjadi di jalan raya, jalan kecil, maupun jalan tol, sampah yang berupa botol atau gelas air mineral, kaleng minuman ringan, bahkan botol kaca bisa keluar begitu saja dari jendela mobil yang ada di depan mobil kamu. Mobil, bukan cuma mobil biasa, tapi dari jendela mobil mewah dengan harga ratusan juta hingga M rupiah pun masih bisa terlihat kejadian yang sama.
Kalau dibilang tingkat pendidikan di Indonesia yang masih di bawah rata-rata, masa sih orang yang ada di dalam mobil mewah tersebut juga orang yang tidak berpendidikan? atau… masa sih mereka ga mampu untuk membeli tempat sampah yang bisa disimpan di dalam mobil mereka itu?
Lalu kenapa? karena kebiasaan? WAH!!! semoga jangan sampai kata-kata kebanyakan orang itu jadi kenyataan, masa sih membuang sampah sembarangan udah jadi budaya masyarakat Indonesia?

Aku sendiri lebih senang membandingkan hal-hal yang sering aku liat sendiri. Orang-orangnya dengan fasilitas pendukung yang ada.

Berbicara mengenai fasilitas pendukung, tentu saja akhirnya kita akan menyinggung dinas terkait, dinas kebersihan. Pemerintah, melalui dinas kebersihan seperti dihadapkan pada pilihan yang sulit juga mengenai pengadaan fasilitas. Kita mungkin akan sangat sering mengeluh karena tidak ada tempat sampah di sekitar kita, tempat sampah yang seharusnya disediakan di hampir setiap sekian ratus atau bahkan setiap sekian puluh meter di daerah-daerah keramaian. Juga di halte-halte tempat menunggu angkutan umum, dan tempat-tempat lain dengan jarak yang disesuaikan dengan keramaian tempat tersebut. Tapi.. dimana semua fasilitas tersebut?
Dinas terkait sih pasti sudah menyediakan fasilitas tersebut di tempat yang menurut perhitungan mereka adalah tempat yang tepat. Tapi kalau kita perhatikan, misal saja hari ini di sebuah halte dipasang sebuah tempat sampah baru, coba hitung (atau tebak juga boleh deh..) berapa lama tempat sampah itu akan ada di tempat yang sama sampai ia benar-benar hilang?
Pilihan yang sulit kan? memberi fasilitas tapi selalu ada tangan jahil yang mengambil/merusak, atau membiarkan apa adanya dan menyebabkan sampah bertebaran dimana-mana?

Aku memilih hal diluar itu.
Aku sempat melihat iklan di televisi (aku sebut sempat, karena aku tidak punya sebuah pun di tempat aku tinggal, dan kebetulan menonton televisi juga bukan hal yang begitu aku sukai) yang mengajak penonton untuk mengambil sampah yang terlihat mata dan memasukkannya ke tempat samapah mulai saat ini. Wow… sebuah ajakan yang bagus, dan tentu saja efektif bila semua orang mau untuk melakukannya. “Ihh… sampah orang lain, bekas mulut orang, jorok, kuman…” dan sebagainya mungkin akan keluar dari mulut sebagian orang.
Kalau sampah yang kita hasilkan sendiri? jorok ga sih buat diri kita? seharusnya enggak dong. Nah, daripada mikirin harus ngambil sampah orang lain, bukankah lebih baik kita menyimpan sampah kita sendiri sampai menemukan tempat yang benar untuk membuangnya.. dan sampah yang sudah ada di bawah, kalau mau berbaik hati, ya dibawa juga, tapi kalau tidak… semoga saja petugas kebersihan tidak melewatinya begitu saja. Dan, jangan berpikir bahwa tempat sampah yang disediakan terlalu jauh dan membuat kita malas bergerak dan akhirnya memberi “excuse” lagi untuk mulai membuang sembarangan atau menyelipkannya dimana-mana.
Hei, hal ini termasuk sampah-sampah kecil… bungkus permen dan puntung rokok, yang biasanya “tidak sengaja” pasti “terlepas” dari tangan kita. Bungkus permen tidak masalah dong, bersih kan? tapi…. puntung rokok, walau setelah bara dimatikan, masih ada tembakau yang bisa bertebaran dan mengotori katong baju, tas dan sebagainya kan? Aku liat, sudah mulai banyak yang menjual portable ashtray (atau asbak portable), kalau masih sulit membiasakan diri membuang abunya kedalam asbak tersebut, setidaknya puntungnya bisa dimasukkan kedalam asbak tersebut sampai kita menemukan tempat sampah.
Mungkin bisa diingat, berikut adalah fakta mengenai sampah di Jakarta yang aku ambil dari unilever :

  1. Data terakhir Dinas Kebersihan Jakarta, menunjukkan jumlah sampah Jakarta sampai saat ini ± 27.966 M³ per hari.
  2. Sekitar 25.925 M³ sampah diangkut oleh 757 truk sampah untuk dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah.
  3. Sisa sampah ± 2041 M³ yang tak terangkut menjadi masalah yang masih menunggu untuk segera diatasi.
  4. Sampai kini, Jakarta masih sangat bergantung terhadap satu-satunya TPA di Bantar Gebang.

Untuk dinas terkait, mungkin ada baiknya untuk menyediakan tempat sampah bukan cuma satu. Tapi setidaknya bisa ada dua setiap tempat untuk memudahkah dalam memisahkan sampah organik (basah) dengan sampah anorganik (kering). Mungkin akan lebih memudahkan proses selanjutnya untuk dijadikan kompos ataupun di daur ulang, bahkan hingga pembakaran. Tapi, harus selalu diperhatikan bahwa harus ada penjelasan yang tidak menjelimet (gambar mungkin lebih baik dan warna yang konsisten) untuk membiasakan masyarakat memisahkan sampah mereka sebelum akhirnya dibuang. Dan perlu diingat untuk selalu mengosongkan tempat-tempat sampah tersebut secara berkala, jangan sampai sudah penuh tapi berhari-hari tidak juga dikosongkan, jadi tidak akan menyebabkan bau dan akan selalu ada tempat untuk sampah baru yang akan dimasukkan.

Sedangkan untuk kita, biasakan diri untuk menyayangi sampah kita, jangan dibuang sembarangan, simpan dan sayangi sampai sampah tersebut menemukan tempat yang tepat. yahh… anggaplah seperti itu… Dan pastinya sangat baik kalau kita memberikan contoh atau mendidik dan mengajak anak-anak kita, adik-adik, dan saudara-saudara kita untuk mulai membuang sampah pada tempat yang tepat dan menyimpanya sebelum menemukan tempat yang tepat. Semoga bisa menjadi kebiasaan yang sangat baik.
Untuk kendaraan, selalu siapkan tempat sampah didalam mobil, ga susah kan? Jadi ga perlu terlihat lagi sebuah mobil dengan plat D membuang sampah dari jedela ke pinggir jalan di kotanya sendiri, Bandung. Udah ga sayangkah sama kota sendiri?

Powered by ScribeFire.

This entry was posted in Daily, Events, Health, Learning. Bookmark the permalink.

6 Responses to Buang sampah?

  1. MOMOSey O_ONo Gravatar says:

    100% setuju! ini yg selalu bikin miris, dan sepertinya sulit sekali di berantas…

    padahal apa sih susahnya membuang sampah pada tempatnya,like u said; membuang sampah pada tempat yang tepat dan menyimpanya sebelum menemukan tempat yang tepat.

    Tapi yahhh sepertinya selama belum smua jalan penuh dgn sampah, sebelum smua sungai kering airnya tergantikan sampah, sebelum tanah terkikis habis tergantikan sampah, kebiasaan itu sulit dihilangkan…;((

    sedih yaaa…

  2. erikNo Gravatar says:

    Sayangnya, hal ini seperti sudah menjadi kebiasaan. Dan sebuah kebiasaan yang tampak sudah sangat biasa itu akan sulit untuk dihilangkan.
    Mungkin sih kita cuma bisa membiarkan generasi sekarang seperti itu, tapi kita HARUS mengajarkan, mendidik, dan membiasakan generasi berikutnya untuk memulai menjadi lebih baik.
    Jika ada seorang anak kecil/remaja yang mau mengambil sampah dari tanah dan membawanya ke tempat sampah terdekat, dan hal itu dilihat oleh orang-orang dewasa, kita mungkin bisa berharap bahwa orang dewasa tersebut malu dan akan melakukan hal yang sama. DAN BUKAN malah dengan egonya berpikir “belagu amat sih tuh anak”…

    Semoga kesadaran akan kebersihan –yang seharusnya tidak bergantung pada tinggi rendahnya tingkat pendidikan– akan segera tertanam, sebelum semua terkikis habis dan semua yang dipandang mata, tergantikan oleh sampah.

    bayangkan, kalau dihitung, dari sekian banyak sampah jakarta setiap hari. Dalam 2 hari kita bisa membuat 1 buah candi borobudur. Dalam setahun, kita sudah mendapat 180 candi borobudur dari sampah.

    Bantar gebang? udah berapa borobudur berdiri disana?

  3. Dian NovitaNo Gravatar says:

    Yups..Setuju banget..!!
    Mungkin itu hanya mimpi buat Indonesia.. saat ini dan ntah sampai kapan???
    “Buanglah Sampah Pada tempatnya” mungkin hanya semboyan yang dianggap remeh oleh warga indonesia saat ini,Dan mungkin pemerintah pun belum ada perhatian yg lebih tentang sampah.. Kita hanya bisa berkhayal kapan indonesia lepas dari identitas negara yang jorok dan kumuh…???
    Mungkin hanya menunggu keajaiban..he he he.. Ayooo…Jadikan Indonesia negara yg bersih dan sehat…!!!

  4. erikNo Gravatar says:

    Menunggu keajaiban? tidak ada yang namanya keajaiban. apapun itu harus diusahakan.Pemerintah tidak menyediakan fasilitas kebersihan dengan jumlah yang memadai, maka setidaknya kita coba jadi contoh, jangan justru kita ikut membuang sampah sembarangan. jalan sedikit kan sehat. kalau malas jalan, simpan dulu saja, nanti saat ketemu tempat sampah baru dibuang. kalau ga ketemu juga? well… bawa pulang deh…

  5. Arysti Safira CartwrightNo Gravatar says:

    knapa sih masih ada orang yang buang sampah sembarangan?

  6. erikNo Gravatar says:

    Arysti Safira Cartwright: Banyak hal yang bisa menjadi sebab, dari kurangnya kesadaran masyarakat (yang bisa berkaitan dengan tingkat rata-rata pendidikan), sampai sosialisasi dari pemenrintah mengenai kebersihan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>