Menguak tabir keabuan

Posted by erik on February 5, 2009 at 4:50 pm.

Terinspirasi oleh tulisan seorang teman di note facebooknya.

Ada sebuah masa, dimana dalam rentang tersebut ada hal-hal yang ingin sekali aku lupakan. Bukan hanya karena kejadian yang tidak mengenakkan yang terjadi di rentang tersebut, tapi lebih dikarenakan aku, yang tak selamanya menjadi manusia baik -bahkan sampai saat ini pun masih saja belum bisa sebaik yang diharapkan- meski aku selalu berusaha, yang -meminjam kata-kata- trauma dengan apa yang tidak sesuai dengan segala harapanku di sana, bisa jadi masalah sebenarnya memang ada pada diriku.
Melupakan satu hal -sebagai akar dari hal-hal lain yang terkait- dalam satu masa tersebut membawa dampak yang besar. Satu yang terburuk mungkin adalah karena semua hal dalam masa tersebut menjadi daerah abu-abu dalam ingatanku, karena hampir semua yang terjadi di sana terlupakan begitu saja. Tampak tidak ada satupun hal yang menyenangkan. Karena yang ada dalam otakku hanyalah ingin lupa.
Kala pada akhirnya aku bertemu dan berbicara -tentu saja bercerita- kembali dengan -sebutlah- “aktor-aktor” yang berada dalam masa itu, sedikit banyak aku tersadarkan bahwa masih ada -bahkan banyak- kejadian yang tidak buruk, bahkan menyenangkan, padahal sebelumnya aku benar-benar tidak ingat. Dan aktor tersebut telah mencoba kembali mengingatkan aku. Dan belakangan, aku mencoba mencari kembali ingatan-ingatan yang berada dalam wilayah abu-abu tersebut. Tak mudah untuk mengembalikannya, karena secara tidak sadar ingatan-ingatan tersebut banyak yang sudah terkunci karena kebebalan otak yang sudah memaksa jaringan syaraf otak untuk melupakan semuanya.

Satu hal yang cukup jelas, tidak mungkin mengorek hanya bagian kesenangan saja dari wilayah tersebut tanpa membawa kembali pula ingatan-ingatan yang justru ingin dilupakan. Tapi, kesadaran akan hal-hal yang menyenangkan untuk diingat tersebut membuatku sedikit tak peduli bila bagian yang sengaja dilupakan itu kembali muncul.
Dan -andai boleh disebut- trauma itu pun kembali memenuhi otak, pikiran, dan hatiku. Padahal sebelumnya semua sudah terlupakan.

Tak ada yang berubah, diingat atau dilupakan, semua memang ada dalam rentang masa tersebut. Dan meski tak lagi aku harap daerah abu-abu itu terulang lagi, tak akan ada yang bisa menjamin hal itu.

toh semua berulang,

l’histoire se répète toujours.

Popularity: 8% [?]

Leave a Reply